Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fath (Kemenangan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 48: 29 ayat
Hadits-hadits tentang Hudaibiyyah.
Di dalam kitab shahihnya, Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam bab asy-Syuruuth, dari al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al-Hakam, yang hadits keduanya saling membenarkan. Keduanya bercerita: “Pada tahun terjadinya perjanjian Hudaibiyyah, Rasulullah pergi bersama sekitar 1300 sampai 200 orang Shahabatnya. Setelah sampai di Dzulhulaifah, beliau menuntun binatang kurban, beliau memberi tanda pada binatang kurban itu dan beliau ikhram untuk umrah.
Rasulullah mengutus beberapa mata-mata dari suku Khuza’ah, lalu beliau melanjutkan perjalanan hingga beliau sampai di Ghadirul Asythath, utusan itu datang kepada beliau dan berkata: ‘Sesungguhnya kaum Quraisy berkumpul dan mereka telah mengumpulkan pasukan untuk memerangi, menghalangi, dan mencegah.’ Maka Nabi bersabda: ‘Hai sekalian manusia, berikanlah pendapat kepadaku, apakah kalian melihat kita mesti cenderung kepada keluarga mereka dan keturunan orang-orang yang bermaksud hendak menghalangi kita dari Baitullah?’”
Dalam lafzh lain disebutkan: “Kalian melihat kita lebih cenderung kepada keturunan orang-orang yang membantu mereka. Jika mereka mendatangi kita, maka Allah telah memenggal leher orang-orang musyrikin, dan jika kita tinggalkan, mereka dalam keadaan berduka cita.”
Dalam lafazh lain: “Jika mereka duduk, maka mereka duduk dalam keadaan tertekan dan berduka cita. Dan kalaupun mereka selamat, maka leher mereka akan dipenggal oleh Allah, apakah kalian berpendapat bahwa kita harus tetap ke Baitullah, sehingga barangsiapa menghalangi kita akan kita bunuh?”
Abu Bakr berkata: “Ya Rasulallah, Engkau berangkat dengan tujuan ke Baitullah, dan bukan [bertujuan] hendak membunuh seseorang dan tidak juga berperang. Oleh karena itu, bertolaklah menuju Baitullah. Barangsiapa menghalangi kita darinya, maka kita harus memeranginya.”
Dalam lafazh lain disebutkan: “Maka Abu Bakar dan utusannya berkata: ‘Perlu diketahui bahwa kita datang untuk mengerjakan umrahdan kita datang bukan untuk memerangi seseorang, tetapi barangsiapa yang menghalangi kita dari Baitullah, maka kita akan perangi.’” Lalu Nabi saw. bersabda: ‘Kalau begitu, berangkatlah.’” Dalam lafzh lain disebutkan: “Berangkatlah dengan menyebut Nama Allah Ta’ala.”
Sehingga ketika mereka berada di suatu jalan, Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Khalid bin Walid di [atas] kuda milik orang Quraisy untuk melakukan pengintaian. Maka, ambillah posisi sebelah kanan. Demi Allah, mereka tidak menyadari keberadaan Khalid sehingga ketika ia bermaksud mendekati pasukan, maka ia pergi dan melompat seraya memberi peringatan kepada kaum Quraisy.”
Kemudian Rasulullah saw. berjalan, sehingga ketika sampai di Tsaniyyah yang darinya beliau membawa mereka turun, maka binatang tunggangannya tersimpuh. Orang-orang berkata: “Biarkan, biarkan.” Dan hal itu diulangi berkali-kali. Lalu mereka berkata: “Unta itu mogok, unta itu mogok.” Maka Nabi saw. bersabda: “Unta itu tidak mogok, dan itu bukan sifatnya, tetapi ia telah dihalangi oleh sesuatu yang telah menghalangi tentara gajah. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah orang-orang Quraisy itu memintaku suatu rencana yang di dalamnya mereka mengagungkan apa-apa yang terhormat bagi Allah, melainkan aku pasti akan memenuhinya.”
Kemudian ia menakutinya sehingga hewan itu meloncat, lalu Khalid meninggalkan mereka hingga ia singgah di ujung kota Hudaibiyyah, di suatu tempat yang airnya sangat sedikit. Orang-orang menggali tanah untuk mencari air, namun mereka tidak juga mendapatkannya. Kemudian mereka mengadukan rasa haus mereka kepada Rasulullah saw.. Maka beliau mengeluarkan anak panah dari sarungnya. Lalau beliau menyuruh mereka supaya memasukkan anak panah itu ke dalam lobang itu. Demi Allah, lobang itu masih terus mengeluarkan air, sehingga mereka mengambil air darinya.
Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Budail bin Waraqa’ al-Khuza’i datang bersama beberapa orang dari kaumnya dari suku Khuza’ah. Rasulullah saw. memberikan nasehat kepada orang-orang yang jahat. Kemudian Budail berkata: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan Ka’ab bin Lu-ay dan ‘Amir bin Lu-ay singgah di air Hudaibiyyah, bersama mereka terdapat suku al-‘Audz al-Muthafil, dan mereka adalah orang-orang yang memerangimu dan menghalang-halangimu dari Baitullah.”
Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kami tidak datang untuk memerangi seseorang, tetapi kami datang untuk melaksanakan umrah. Dan sesungguhnya orang-orang Quraisy telah diselimuti oleh [nafsu] berperang, sehingga mereka celaka karena perang tersebut. Jika mereka menghendaki, aku akan memberi tangguh kepada mereka beberapa saat untuk tidak berperang dan mereka membiarkan diriku menghadapi orang-orang kafir Arab. Jika aku menang mereka mau masuk ke dalam tempat yang dimasuki orang-orang [mentaatiku], maka mereka boleh melakukannya. Jika tidak, maka mereka telah beristirahat [dari perang]. Dan jika mereka menolak, maka demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku akan memerangi mereka atas dasar urusanku ini, sampai mati atau Allah akan menyelamatkan urusan-Nya.”
Budail berkata: “Aku akan sampaikan kepada mereka apa yang engkau katakan itu.” Kemudian mereka berangkat, sehingga ia mendatangi seorang Quraisy dan berkata: “Sesungguhnya kami datang dari sisi orang ini [Rasulullah], dan kami telah mendengar ia berkata-kata. Jika kalian menghendaki, kami akan memaparkan kepada kalian.” Maka orang-orang bodoh di antara mereka berkata: “Kami tidak butuh penjelasanmu sedikitpun mengenai ucapannya itu.” Sedangkan orang-orang yang berakal dari mereka berkata: “Beritahukanlah apa yang pernah kamu dengar darinya.” Budai menjawab: “Aku pernah mendengarnya berkata begini dan begitu.” Kemudian Budail memberitahu mereka apa yang pernah dikatakan Rasulullah saw.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar